(Writing Projects) KITA BELUM USAI - DUA

Senja menaruh sinar yang berarti berakhir sementara dan esok kembali. Senja selalu menghadirkan rindu yang tak pernah usai

Semoga ini sama dengan kaitan kita, sebentar terpisah lalu kita kembali bersama.

"Lagi-lagi..." ucapku lirih
Ku lanjut dalam penerkaan pemikiran..

Sama dengan waktu itu sepertinya, dimana semua sudah pada titik jenuh. -_-

Aku coba raih nama nama mereka yang dapat kuhubungi dan kuceritakan jernih pekatnya hidup. Namun sudah tak kudapati lagi aksara lama yang menghiasai telpon genggamku, entah karena  tak dekat lagi atau apapun itu, akupun berhenti mencari dan mengurungkan niat untuk memulai menghubungi meraka.

"Takut?"  Mungkin
Namun
"Rindu?" Iyaa

Takutnya kita akan begitu canggung untuk memulai perbincangan malah terburu untuk menyudahinya
Namun
Aku rindu sendau gurau pertemanan tempo dulu. Sandainya aku bisa menjaga rasa itu, rasa akan rindu meski dipemberhentian, setidaknya berhenti untuk beristirahat bukan untuk menyerah.

Sayang ingin kutanyakan dalam ketikanku ini ----------

"Apa kabarmu? Kau ingat pernah kutitipkan rindu lewat aksara-aksara yang ku kirim setiap waktu pada seuntai ucapan selamat pagi :)"

"Ingatkah ketika menangis bersama atas kesalahan diri penuh dosa. Ingatkah segalanya? apakah masih ingat? "
Hmm lelah fikirku terlalu larut dalam gundukan tanya. 

Kuharap kau baca ini lalu dibalas 
"Akupun merindukanmu sahabtku"

Fifi Amaliah, 19 Maret 2017

------------------------------------------------------------------

Balasan

"Terkadang kita terlalu fokus dan memikirkan perpisahan. Dan jarang bersyukur karena telah dipertemukan."
-ningningg, 2015.

Sejatinya kehidupan adalah rangkaian pertemuan. Sama seperti senja yang selalu diikuti malam. Pun dengan pertemuan, akan selalu diikuti perpisahan.

"Pada hakikatnya manusia dilahirkan untuk ditinggalkan atau meninggalkan" setidaknya itu yang ku ingat dari untaian kata yang pernah seseorang katakan tempo hari.

Dan benar, bahkan sekarang pun mungkin aku memilih meninggalkan. Walaupun aku sebenarnya sangat takut jika disuatu senja, aku pun ditinggalkan.

Kamu tau?
Aku pun begitu. Kadang ada suara tak kutahu mengetuk hati didalam sunyi. Kupikir itu hanya rasa yang akan berlalu. Tapi ternyata itu rindu.

Rindu saling memetik tiap-tiap ilmu di rumah-rumah Allah.
Rindu saling menepuk bahu saat terkadang merasa bahwa semua berjalan sia-sia.
Rindu saling bernada-nada indah di teras, ditemani eksrim rasa vanilla.

Tapi apa kamu juga tau?
Ada hal yang bisa mengeratkan kita walaupun kita berjauhan?

Doa.
Bukankah kamu sering mendengar ini:
"Sejauh apapun jarak, doa pasti akan sampai"?
Seminimal mungkin kita harus tetap saling berdoa.

Tenang saja. Kita akan bertemu.
Mungkin esok?
Atau lusa?
Atau seminggu kemudian?
Walaupun tidak secepat itu, bukan kah kita selalu bergerak?
Dari waktu ke waktu.
Semua pergerakan kita pasti akan diikuti suatu pembelajaran.
Aku selalu menjadikan pembelajaran itu menjadi pendewasaan pikiran.
Itu bagus. Untuk masing-masing kita. Setidaknya ada hal bagus dibalik tidak adanya pertemuan, bukan?

Aku selalu berdoa tentang kembali dalam pertemuan.
Entah itu didunia atau pun diakhirat.
Tapi aku selalu berharap dan berdoa. Bahwa kita adalah sebenar-benarnya sahabat.
Yang akan Allah pertemukan kelak di surga milik-Nya.
Aamiin.

"Aku pun merindukanmu, Sahabatku."

Hawa Herliani Atmawijaya, 19 Maret 2017

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top