Hening dan langit seperti sudah saling bersepakat. Hari ini lebih muram dari biasanya, awanpun mengikuti. Hitam pekat seperti mengerti betul pada apa yang hening dan langit lakukan. Kupikir, aku pun sama. Muram. Seperti telah pada batasnya dan mulai berputus asa.
Tapi ternyata tidak! Aku tak seperti yang bahkan diriku sendiri kira. Aku mampu berdiri tak bertopang, berjalan bahkan berlari.
Walaupun sebenarnya seperti ada sedikit ganjalan, berulangkali. Yang terkadang membuat tertatih untuk melangkah. Layaknya menyuruhku untuk berhenti berharap. Pun seolah jalan dihadapan ku ada lubang besar yang dipenuhi genangan air kotor. Sulit untuk dilewati.
"Menyerah dan berbalik arah lah!" Suruhnya.
Jika aku seperti boneka yang kosong. Mungkin aku bisa saja mengikutinya. Menyerah. Berbalik arah. Sudahi saja! Terima semua. Tapi ku katakan sekali lagi, tidak! Setidaknya masih ada harapan yang aku genggam untuk menuntunku sampai ke tujuan.
Tapi, pada akhirnya aku paham. Ada hal hal yang memang tak seharusnya aku paksakan. Ada hal hal yang memang seharusnya aku biarkan. Ada hal hal yang memang seharusnya tidak aku gantungkan harapan.
Hei! Kau menggantungkan harapan pada siapa?!
Duduk menepi, menyandarkan tubuh, meluruskan hati. Apa yang sedang aku perjuangkan sampai saat ini? Dan siapa yang ku usahakan untuk ku gantungkan harapan? Pikir lagi!? Kau salah mengerti hai diri!
Ataukah, seharusnya...
Biarkan saja berbalik arah, supaya ada insan yang sudi menyadari ketiadaan?
Biarkan saja menyendiri, supaya ada insan yang merasa diserang rindu, sadar bahwa ada hal yang telah hilang?
Biarkan saja sembunyi, supaya ada insan yang mengerti tentang arti pencarian?
Biarkan saja tak acuh, supaya ada insan yang paham bahwa ada hati yang tak dipahami?
Tapi..
Apa memang akan ada yang sudi untuk itu?
Ah! Aku masih duduk diperhentian.
Entah menunggu apa, siapa atau apapun yang sebenarnya tidak ada.
Semoga tidak membeku dan mati rasa.
Hawa Herliani Atmawijaya, 12 Maret 2017
------------------------------ ------------------------------ --------
Balasan
Hati maka tenanglah,
jiwa-jiwa penyabar mungkin sedang menanyaimu perihal pengharapan meski tak kunjung diberi kepastian.
Hati maka berhentilah
Jika penantianmu tak cukup dihargai, sudahi saja meski tarlampau berat menopang tubuh lelahmu
Hati maka tetap dalam kuasamu.
Jika akhirnya penantian ini seperti bunga tidur bak dilanda gundah gulanda, terjang saja!! pun memang kamu jua kan yang menginginkan berlanjut
Aku percaya.
Kamu, ragamu atau bahkan hatimu tak ingin menyudahi begitu saja, bahkan dipikir ini sudah terlalu jauh bukan?
Yah'
Memang benar pengaitan antara kekuatan rasa ingin memiliki harapan itu ada.
Namun dengarkan aku! mendekat ibarat bayangan yang membuntuti setiap hidup seorang insan tapi tidak sedikitpun disapa atau berkata 'hai' pun tidak sama sekali, itu sakit!. Jangan mau menjadi seorang ratu pengemis tahta jika darah bercucuran sepihak dikamu saja.
mampu? Katakan saja!
Jika tak mampu? Biarkan!
Tak perlulah berlari begitu kencang seperti pemburu tak berkesudahan.
Fifi Amaliah, 12 Maret 2017


0 komentar:
Posting Komentar