Mengaggumi Seseorang Part II

Aku tergabung di salah satu komunitas, dan aku punya beberapa teman yang luar biasa semangat dalam hal kebermanfaatan pada sekitar. Setiap kali libur dari rutinitas pekerjaan, mereka kadang menyempatkan untuk mengisi kegiatan ekstrakurikuler Rohis (kerohanian islam) salah satu sekolah menengah atas. Kebetulan anak-anak rohis itu mempunyai rasa penasaran yang luar biasa, salah satunya penasaran akan kehidupan mengejar pendidikan di luar negeri.

Aku yang ga punya pengalaman apa-apa tentang kuliah di luar negeri, bingung sendiri bagaimana menjelaskan dan menjawab rasa penasaran mereka. Akhirnya aku putuskan untuk mencari sumber referensi untuk mereka. Sebenarnya sih bisa saja waktu itu googling tapi rasanya akan lebih menyenangkan jika bisa langsung menanyakannya ke orang yang memang pernah atau sedang menempuh pendidikan di luar negeri.

Tiba-tiba aku langsung teringat dengan si A yang memang sedang menempuh pendidikan di Mesir. Sebenarnya saat itu ada 1 orang lagi selain si A yang masuk sumber referensi untuk ditanyai seputar masalah kuliah di luar negeri, dia kuliah di Germany. Karena sulit buat dapat contactnya, akhirnya aku nyerah buat tanya-tanya ke dia. Dan memutuskan untuk tanya-tanya langsung ke A.

16 Mei 2017.

Aku coba klik profile  dia dan klik ikon messangernya, ah! Dia online sekitar 27 menit lalu. Dengan rasa ragu-ragu, aku coba menyusun kata-kata pembuka, perkenalan dan tujuan kenapa mengirim dia message.

Ketik. Hapus. Ketik. Hapus. Ketik. Hapus. Gitu terus sampai berkali-kali saking bingung, takut deg-degan, dan banyak rasa campur aduk.

Setelah 1 jam berlalu, akhirnya aku berhasil menyusun kata-kata dengan ya lumayan sempurna. Tapi permasalahan datang lagi. Sekarang, apa aku berani klik tombol 'kirim'? Rasanya ngga. Ini bukan drama atau apa. Tapi serius saat itu tangan gemetaran, jantung berdegup lebih kencang dari biasanya, suhu badan terasa naik, telinga panas, ga bisa fokus sama sekali. Finally! Lumayan cukup lama perang batin antara kirim atau tidak pesannya, dengan mata tertutup, ku gerakkan telunjuk dan klik tombol 'kirim'! Tepat jam 14.15!

DEMIII APAAAAA AKU BERANI NGIRIM MESSAGE KE DIAA????
Ini pasti salah! Otak aku bener-bener ga jalan sebagaimana mestinya! Ah gimana ini. Nyesel. Pengen ngilang dari dunia! *seenggaknya itu yang aku rasain saat itu hahaha*

Dan disaaat kegalauan melanda, pukul 14.24 messanger bunyi mendakan ada message masuk! Makin panas dingin, makin gemetaran, makin makin dan makiiiiin apapunlah. Dan benar! Dia balas message aku! Ga sadar tingkahku mendadak konyol, loncat-loncat dikasur, senyum-senyum sendiri dan entahlah kekonyolan lainnya.

Aku jelaskan tujuan aku ngirim message ke dia. Dan dia accept it! Tanpa aku banyak tanya, dia menjelaskan panjang lebar apa-apa yang sekiranya dia tau. Belum aku lanjut membalas, dia bilang mau off dan minta lanjut di whatsapp. Dia ngasih nomor whatsappnya! Dan dia off.

Setelah save nomor whatsappnya. Datang lagi permasalahan lainnya. Aku mau whatsapp dia apa? Sedangkan anak-anak belum ngasih pertanyaan yang pengen mereka tanyain. Bingung :(  Jam 16.26 aku coba langsung menghubungi whatsappnya. Dan dibalas jam 16.56. Aku coba balas lagi, dan finally jam 18.27 sudah checklist biru tanpa dibalas :( Sampai besok paginya pun ga dibalas. Ah mungkin dia sibuk.

Hei! Rasaya konyol banget aku hari ini. Dalam sehari aku merasakan perubahan mood berkali-kali. Dari bosen, penasaran, excited, nervous, bingung, takut, gemeteran, panas dingin, kaget, seneng, jingkrak-jingkrak, deg degan, dan pada akhirnya sedih karena whatsapp ga dibalas lagi.

Tapi its okay, wajar kok. Kita ga saling kenal banget jadi gaada kewajiban dia buat balas lagi pesan aku kecuali kalo pesan itu benar-benar penting. Rasa kekaguman mulai muncul kembali dan aku pikir ini hal yang normal bagi manusia. Walaupun tidak ada interaksi apa-apa lagi, setidaknya dia sudah tau ada seseorang yang bernama 'Hawa' yang sudah dia kenali.

Entah bagaimana kelanjutannya, pada akhirnya aku hanya akan berpasrah pada Sang Maha Kuasa. Biarlah rasa kagum ini tetap ditempatnya, tidak perlu merambah kemana-mana apalagi harus berharap pada manusia, toh berharap pada manusia pada akhirnya akan kecewa juga. :)

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top