Aku, Kamu, Kalian, SMA dan Sekarang

Dari sekian masa-masa pendidikan yang kita lewati, sekian banyak yang membagikan ceritanya, yang paling berkesan adalah masa-masa SMA.
“Kamu tau wa? Bahkan waktu aku kuliah pun, ga seseru masa SMA. Masa SMA itu bikin penuh rindu.” Begitu kata salah satu teman saat aku mengajaknya mengenang masa SMA.
Iya memang benar, walaupun sebenarnya aku belum pernah merasakan bangku kuliah (karena lebih memilih bekerja), aku bisa memahami bagaimana masa-masa SMA jauh lebih menyenangkan. Setidaknya itu yg aku simpulkan dari beberapa obrolan dengan teman-teman.
Berbicara soal SMA, tidak lengkap rasanya jika tidak berbicara tenang Persahabatan, Cinta dan Tingkah Konyol. Dan di sanalah aku mengenal Astri Mauladini.
Kamu kenal dia? Oh mungkin jika ada beberapa teman SMA ku yang membaca, kalian akan kenal. Tapi jika bukan, wajarlah kalian ga kenal. Maka mari kita kenali sosok itu.
Dia bernama Astri Mauladini, perempuan, anaknya lucu, kadang kalo ngobrol sama dia, dia selalu memperlihatkan ekspresi lucu. Walaupun ga selucu panda yang baru lahir. Dan aku nyaman memanggilnya sebutan “Astri” bukan karena apa, tapi karena terdengar lebih simple.
Aku masih ingat pertama kali melihatnya saat pendaftaran masuk SMA, dia diantar ayahnya. Sedangkan aku daftar sendiri bersama salah satu temanku (yang pada akhirnya temanku itu tidak lulus untuk memasuki SMA yang sama denganku).
Mungkin Astri tidak tau, bahwa saat aku melihatnya pertama kali, aku sempat berbicara dalam hati tentang dirinya. “Kelihatannya anak baik, nanti mau kenalan dan temenan ah!” Serius aku ga bohong waktu aku nulis gini, beneran itu yang aku pikirkan waktu lihat Astri mau daftar sekolah di SMA yang sama dengan ku.
Saat pembagian kelas, maka terhimpun lah aku dengan beberapa siswa-siswi lain dalam kelas X.1 dan salah satu diantara siswinya adalah Astri. Lupa bagaimana ceritanya, pada akhirnya aku duduk satu meja. Dan mulai menjalin persahabatan.
Dan benar, Astri orangnya asik dan ramah. Kami duduk dibarisan kedua dari belakang. Dan juga memang, ada cerita legenda yg menyatakan bahwa barisan anak-anak belakang adalah barisan anak-anak berisik.
Aku, Astri, Putri, Restu, Booby, Rendy, Haris dan Septian. Menjalin persahabatan dan bahkan sampai membuat agar terlihat kompak didepan orang banyak, kami membuatnya dengan cara membuat jaket seragam. Entah apa yang kami pikirkan saat itu kenapa harus membuat jaket seragam.
Ohiya ada satu lagi, siswi pendiam yang duduk tepat dibelakang ku, namanya Kartini. Saking diamnya, dia hanya punya beberapa teman eh atau mungkin temannya hanya Putri ya saat itu? Ah aku lupa. Pokonya kami pernah melihat catatan milik Kartini yang ia tulis di halaman belakang bukunya. Yang menyatakan bahwa ia ingin berteman dengan kami. Tapi ia urungkan karena minder.
Stop. Aku gabakalan cerita lebih lanjut tentang Kartini atau yg lainnya. Karena aku akan fokus cerita tentang Astri, sahabatku sejak SMA.
Satu tahun berlalu dikelas yang penuh dengan siswa-siswi dengan karakter masing-masing yang ajaib. Tiba saatnya lah kami penjurusan. IPA dan IPS.
Lagi-lagi dan memang mungkin tidak ada yang kebetulan, aku mendapati Astri satu kelas denganku lagi. Rasanya seru, seperti takdir sengaja mempertemukan dan mempererat persahabatan kami lagi. Hanya bedanya kami tidak satu meja. Aku duduk dengan Mely sahabat sejak SD, lain kali aku akan cerita tentang Mely.
Setelah penjurusan bahwa kedepannya kami akan benar-benar menghabiskan tahun dan masa-masa SMA bersama sampai lulus kelak. 2 tahun. Kupikir saat itu adalah waktu yang lama, tapi ternyata jauh lebih singkat dari yang kuduga.
Kelas XI kami mulai merasakan persahabatan yang lebih seru. Kekonyolan teman-teman sekelas. Kenakalan remaja SMA yang masih pada batasnya. Lupa mengerjakan PR. Telat datang ke sekolah. Tidak memakai atribut lengkap, membawa barang-barang pribadi ke kelas. Bahkan dikelas ku ada 2 Genk yang ditandai oleh salah satu guru fisika, Bu Widi namanya.
“Kalian itu Genk salon!” Teriak Bu Widi dengan sedikit agak meledek lucu ke beberapa siswi kelas yg duduk berdekatan.
“Liat aja tasnya, ada sisir, bedak, parfum. Udah kayak salon!” Lanjutnya dan diikuti tertawa teman-teman sekelas.
“Kalo kalian Genk bengkel!” Lanjut Bu Widi sambil mendekati ke tempat duduk beberapa siswa. Aku lupa apa yg Bu Widi temukan di tas para siswa sekelasku itu, sehingga Bu Widi menjuluki mereka Genk bengkel. Yang aku ingat bahwa mereka selalu membawa helmnya ke kelas dan menaruhnya dipojokan. Dan semua siswa-siswi tertawa mendengar Bu Widi meledek.
Aku dan Astri bukan salah satu siswi yang dijuluki Genk itu. Bukannya mencap jelek mereka. Serius bukan. Aku malah berpikir bahwa mereka itu keren. Dengan adanya mereka masa SMA ku seru dengan cerita dan kisah kekonyolan mereka. Terimakasih telah menjadi teman-teman sekelasku!
Kelas XI sampai XII aku bersahabat dekat dengan 5 oranglain. Aku, Astri, Mely, Andini, Novi dan Cindy.
Seperti kembar 6 dari satu orangtua. Kami kemana-mana selalu bersama. Ya ke kantin, ya nongkrong bareng depan kelas. Bahkan nih ya kami sempat dijuluki Genk Latah oleh beberapa teman sekelas. Bukan karena kita ngomongnya latah. Tapi kita itu bahkan kalo jajan di kantin, menunya sama! Walaupun hanya sekedar jajan bala-bala sama Aqua gelas. Pokoknya melebihi anak-anak kembar identik!
Astri juga kadang membawa motor ke sekolah. Dan aku biasanya nebeng. Sebenernya Astri sering bawa motor maticnya, tapi saat itu dia bawa motor bebek.
Karena waktu itu pulang agak telat dari sekolah, aku ditawari pulang bareng Astri pake motor bebeknya.
Ditengah perjalanan, didepan kami ada bapak-bapak yang membonceng mungkin istrinya atau ia tukang ojeg? Terserah lah. Dan si bapak itu melaju kecepatan yang lamban. Mungkin Astri kesal karena ngagokkin. Akhirnya dia putuskan untuk menyalip.
Entah lupa atau apa bahwa ia membawa motor bebek dan bukan matic, akhirnya dia mencoba menarik pedal gasnya dan lupa oper gigi! Bukannya nyalip dan ngeduluin si bapak itu eh malah motornya rendengan jalannya.
Aku yang duduk membonceng, lihat ekspresi si bapak kayak yang bingung. Mungkin dalam hatinya bilang “Nih anak ngapain bawa motornya jadi rendengan gini?” Dan aku hanya tertawa terbahak sepanjang jalan. Inget itu ga Astri? Hahaha
Lulus sekolah, Astri memutuskan kuliah di Bandung. Dan otomatis dia akan menghabiskan hari nya beberapa tahun kedepannya di Bandung. Sedangkan aku memutuskan untuk bekerja di Karawang.
Perpisahan bukan berarti hal yang menyedihkan. Walaupun sebenarnya ada rasa kehilangan. Bagaiman tidak? Kami 3 tahun bersahabat.
Perbedaan kota pada akhirnya kami tetap berkomunikasi. Walaupun walau hanya curhat via WhatsApp atau apapun. Astri itu orangnya gampang baper. Sering curhat.
Sampai sekarang Alhamdulillah, persahabatan kami tetap erat. Eh kita per ah berantem ga sih? Lupa hahaha
Rasanya seru kalo ingat masa SMA. Kenangan.
Kenangan adalah suatu kisah yang dipastikan telah berlalu dimasa lalu, dan membuat kita ingin mengingatnya kembali.
Bukan kah yang paling seru setelah sebuah waktu terlewat adalah mengingat kenangan yang telah dibuat? Dan aku berhasil mengenang mereka. Mengenang Astri, mengenang masa SMA, mengenang hal hal konyol bin ajaib bahkan ada juga mengenang hal yang menyebalkan. Tapi itulah kenangan, tidak selalu indah. Tapi yg terpenting adalah pembelajaran.
Lalu terakhir, sebenarnya tulisan ini secara khusus kubuat untuk memperingati hari ulangtahun temanku yang paling banyak kusebut disini. Astri. Tapi sayang sudah kelewat bulan September lalu. Mau buat tahun ini, masih lama. Takut keburu hilang tulisannya.
Terimakasih sudah menjadi sahabat sejak SMA sampai sekarang. Terimakasih sudah saling memahami. Terimakasih sudah menjadi tempat berbagi cerita yang diselingi dengan tawaan.
Selamat memaknai hidup Astri semoga selalu sehat dan senang. Cerialah diseluruh harimu, dan semoga bertemu jodoh tidak perlu cepat cukup ia datang diwaktu yang tepat. Dan tetap lah menjadi kamu.

PS: Sebenarnya pengen sekalian upload fotonya waktu SMA, tapi ga nemu :(

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top