Bulutangkis dan Mimpiku yang Terkikis
Selepas ajang Asian Games 2018 dilaksanakan dan Indonesia jadi tuan rumahnya, aku ngerasa kalo kecintaan masyarakan Indonesia dengan olahraga mulai kembali tumbuh. Salah satunya dari cabang bulutangkis. Tahun 2018 ini menurutku adalah tahun-tahun dimana masyarakat Indonesia kembali memperhatikan bulutangkis, iya termasuk aku.
Sejak SD aku memang suka menyukai bulutangkis, tapi semenjak SMA aku mulai perlahan sedikit melupakan olahraga satu itu, padahal salahsatu mimpiku adalah menjadi pemain bulutangkis. Sini aku cerita sedikit...
Sejak SD aku memang suka menyukai bulutangkis, tapi semenjak SMA aku mulai perlahan sedikit melupakan olahraga satu itu, padahal salahsatu mimpiku adalah menjadi pemain bulutangkis. Sini aku cerita sedikit...
BULUTANGKIS DAN MIMPI KECILKU YANG TERKIKIS
Siapa sangka, seorang perempuan yang kini sedang asyik menikmati pertandingan demi pertandingan bulutangkis dari layar televisi, dulunya pernah bermimpi menjadi pemain bulutangkis yang bisa membawa nama Indonesia pada dunia.
Saat pertama kali aku dikenalkan olahraga bulutangkis saat masih menempuh kelas 4 SD. Guru olahragaku, Pak Agus dia yang petama memperkenalkanya. Awalnya hanya sebatas mengikuti kurikulum sekolah. Tapi lama-lama aku mencintai olahraga satu itu.
Rumahku tepat diseberang SD, setiap malam Pak Agus dan bapak-bapak diligkunganku bermain bulutangkis dilapangan sekolah. Karena rumahku dekat dengan lapanga, jadi setiap malam aku asyik menonton mereka bermain. Sedikit demi sedikit memperhatikan teknik dan cara bermain.
Sampai pada akhirnya, Pak Agus mengatakan bahwa akan ada seleksi siswa untuk mengikuti Porseni cabang kecamatan. Banyak kategorinya, salah satunya adalah bulutangkis. Awalnya aku ragu, apa aku harus ikut seleksi itu atau tidak, karena saat itu aku belum pernah sekalipun ikut pertandingan bulutangkis, ya hanya main seadanya dengan teman.
"Kamu nanti dateng ya, ikut seleksi olahraga." Kata Pak Agus saat itu menghampiriku. Jadi saat itu aku harus ikut seleksi seluruh cabang olahraga, nanti mana yang paling ku kuasai, itu yang akan dipertimbangkan.
Aku akhirnya memutuskan untuk akan dengan serius mengikuti selesksi bulutangkis. Aku ingat ketika aku meminta Ibu membelikanku raket, dan ibu membelikanku raket seharga lima belas ribuan hehe juga setiap sore aku ajak teman-temanku untuk bermain bulutangkis menemaniku latihan juga dengan cock yang udah hampir hancur dan gundul karena sering dipukul haha
Sampai tiba saatnya seleksi pemain. Dan ya! Singkat cerita latihanku tidak sia-sia, aku berhasil lolos menjadi pemain tunggal putri bulutangkis disekolahku. Dan dimulai saat itu, setiap malam aku berlatih dilapangan sekolah. Pak Agus membimbingku dan menempa mentalku. Dimulai saat itulah aku mencintai bulutangkis.
Saat mulai sekolah menengah pertama, aku mulai serius untuk menjadi pemain bulutangkis, jadi ku putuskan untuk mengkuti ekstrakurikuler bulutangkis disekolah. Setiap hari Sabtu, aku datang latihan lengkap dengan segala atribut yang harus ku bawa.
Raket yang awalnya lima belas ribuan, ku upgrade menjadi yang harganya ratusan ribu. Perlengkapan lain juga ku mulai membeli dengan uanng jajanku sendiri dengan cara mencicil. Karena didekat sekolahku saat itu ada club bulutangkis, dan memang tempat latihan ekskulku disana, aku mulai megenal beberapa orang-orang yang memang sejak muda sudah diuggulkan menjadi atlet kelak.
Latihan fisik mulai ku jalani saat berada di club, walaupun membuat lelah dan badan sakit setiap selesai latihan, tapi semangatku tidak mengendur, malah semakin semangat. Apalagi jika melihat pada calon atlet lain bermain bagus dan bercerita bagaimana saat mereka bertanding. Itu membuatku juga ingin merasakannya.
Namun, semangatku saat itu hanya sementara. Kelas 3 SMP aku memutuskan untuk tidak melanjutkan latihan di club, selain karena saat itu aku harus fokus ujian nasional, keluargaku juga bukan tipe keluarga yang peduli dengan minat anaknya. Mungkin berbeda jika mereka menyadari minatku, support dari mereka akan menjadi motivasiku lebih bear lagi. Tapi tidak saat itu.
Memasuki SMA, mimpiku menjadi pemain bulutangkis terkikis. Aku lupa bagaimana semangatku dulu. Aku lupa bagaimana rasa keinginanku untuk mengikuti pertandingan dan dilihat banyak penonton. Aku lupa semuanya. Sampai pada akhirnya kini, sekarang. Aku mulai merenung dan menyesali keputusanku mengapa aku menganggalkan semangatku dulu.
Tapi, menyesal tidak akan merubah apapun kan?
Tapi yang kutau sekarang adalah, walaupun mimpiku menjadi pemain bulu tangkis telah terkikis, kecintaanku takkan pernah habis.
Semoga bulutangkis Indonesia bisa mengepakkan sayap pada dunia. Dan kelak semoga aku bisa berkontribusi dalam perkembangan Bulutangkis Indonesia. Aaamiin. :)

